Jumat, 19 Desember 2014

DAFTAR ISI :
Beranda
N-J-A-P-A
Sinopsis Jodha Akbar
Tulisan Bebas


Eps. 236

Beberapa orang mewakili umat Hindu menemui Kaisar untuk berterimakasih atas banyak kebijakan baru yang menempatkan umat Hindu sederajat dengan umat Muslim sebagai warga Kerajaan Mughal. Mereka membawa hadiah berupa Mushaf Al-Qur'an untuk Jalal. Sambil menerima mushaf itu, Jalal berharap dan berdoa semoga Jodha segera kembali ke Agra.

Ruqaiya memanggil Jalal ke kamarnya. Jalal datang.
Ja : "Kau memanggilku Ruqaiya"
Ruq : "Ya, aku ingin mengucapkan selamat padamu. Rakyat bangga dan makin mencintaimu atas kebijakan2 yg kau ambil. Aku bangga padamu Jalal" ((tangannyaaa mulai kemana-mana *jenggung ruqaiya!!))
Ja : "Syukriyya Ruqaiya. Tapi sebetulnya ini semua berkat Ratu Jodha."
Ruq : (kaget)
Ja : "Waktu aku dan Ratu Jodha berziarah ke Baba Salim Chisti, kami dalam penyamaran sebagai orang Hindu. Dan saat itu aku sudah tahu kalau banyak orang Hindu tidak bisa pergi berziarah krn tidak sanggup membayar yatra. Tapi waktu berlalu dan aku jadi lupa masalah itu."

(Ruq mengalihkan perhatian Jalal, daripada mati kering dengerin cerita ttg Jodha)
Ruq : "Jalal, sudah lama sekali kita tak pernah bersama-sama lagi. Mari kita main catur", Ruq mencoba membujuk Jalal.
Ja : (hopeless, nampak ogah banget gitu, wkwk ) "Maafkan aku Ruqaiya, tapi aku benar-benar sibuk saat ini. Banyak yg harus kukerjakan. Aku pamit dulu ya"
Ruq : (sedih, merajuk) "Kau sungguh tak adil Jalal. Aku ini juga istrimu, katamu aku ini sahabat terbaikmu. Aku merindukanmu tapi kau tak pernah mempedulikanku. Kau pikir aku ini herbarium?? Setelah kau petik dari pohon lalu kau awetkan aku hingga mengering trus bisa kau pajang di tembok.. Jahat sekali kau Jalal. Bahkan pohon kemangi nya Ratu Jodha kau datangi dan sirami tiap hari. Apa aku ini sudah lebih tidak berharga daripada pohon kemangi?? Setidaknya penjaga wc masih kau datangi tiap pagi. Lha aku?? Huwaaaaa...katakan padaku Jalal, kau anggap aku ini apa sebenarnya ha?..."

Ruq tak henti2nya mengomel.
Ja : "Basshh Ruqaiya! Kalo kau masih mau ngomel, ijinkan ambil jas hujan sebelum aku teles kebes disini. Baiklah kita main catur, tapi hanya 1x permainan, oke?"
Ruq : (muka berseri seri) "Baiklah, trimakasih Jalal".

Jalal dan Ruq sedang bermain catur. Ruq berusaha mengambil hati Jalal dengan memujinya dan bercerita apa saja. ((Gak ngepek mbak wong hatinya Jalal ketinggalan di Amer. Kalo mau ambil aja ampelanya)).

Tiba2 seorang pelayan masuk mengabarkan ada seorang pembawa pesan datang. Merasa diganggu Ruq lanngsung melotot murka.
Ruq : "Diam! Apa kau tak lihat Kaisar sedang istirahat. Suruh saja kembali lagi nanti!!"
Ja : "Ruqaiya, plis deh, kau ini macan apa kodok sih, galak bener!! (Bertanya pada pengawal) Pembawa pesan dari mana?"
Peng : "Dari Amer Syahensyah?"
Ja : "Apa? Dari Amer? (Langsung berseri-seri) Pasti ada sesuatu yang penting."
Ruq : "Jalaaal, tapi Jalal kau sudah berjanji..."
Ja : "ssst, tunggu sebentar" (Lalu ngibrit keluar menemui pembawa pesan)
Ruq : (panik, suuebbeelll poolll) "Amer amer amer meneeehhh.... Amer terus!!!!"

Setelah menerima surat, Jalal ngibrit lagi masuk. Dengan agak pekewuh dan malu2 dia minta tolong Ruq membacakan surat untuknya. ((Wkwk, oon tenan kaisar kok buta hurup)).
Ruqaiya sebel. Aslinya males tingkat dewa. Udah feeling so bad soalnya.
Ruq : "Aku mau membacakannya tapi kau harus berjanji main 2x permainan nanti"
Ja : (ga sabar bgt) "Iya iya, oke oke, apapun yang kau mau. Baca, bacakan dulu..."
Ruq : (membuka gulungan surat) "Yth. Yang Mulia Kaisar, dengan bahagia aku ingin memberitahukan pada anda, bahwa Jodha sudah memutuskan untuk kembali ke Agra..." (Ruq, berhenti membaca, shock, jengkel)
Ja : (aslinya pengen sorak2 lompat2, joget2, jejingkrakan, tapi malu sama Ruq) "Kyu?? Jodha begum...teruskan Ruq kumohon teruskan..."
Ruq : "Jalal, kau sudah berjanji padaku bahwa kita akan..."
Ja : (memotong kalimat ruq) "Ya ya ya, itu gampang nanti, ayo ayo teruskan dulu"
Ruq : "Jika engkau membaca surat ini, Ratu Jodha sudah berada di perjalanan, mungkin 3hari lagi dia akan sampai di Agra. Semoga engkau bahagia mendengarnya. Salam. Raja Bharmal"
Ja : (sudah tak bisa lagi menutupi kebahagiaan) "Ruqaiya, trimakasih sudah membacakan surat terindah dalam hidupku...trimakasih Ruqaiya aku harus pergi sekarang, aku harus mempersiapkan penyambutan kepulangan Ratu Jodha..."
Ruq : "Tapi Jalal, bagaimana denganku...kau janji akan bermain denganku..."
Ja : "Ruq, aku akan main denganmu, tapi tidak sekarang. Nah kamu, sementara, main sendiri dulu disini ya. Nanti aku ambilkan ember sama air, kamu main kapal2an dulu sendiri disini ya. Oke?? Sip. Kutinggal dulu ya."
Lalu jalal ngibrit kabur. Tinggal lah Ruqaiya ndeprok di lantai nangis sesenggukan, sambil nguwel uwel ujung baju.
Ruq : "Jalaaaaallll,....huwaaaa..."
((*Sodorin lap ingus))

Sementara itu, Jalal tergesa-gesa menuju kamar ibunya. Sambil berteriak-teriak kegirangan memanggil-manggil ibunya.
Ja : "Amijaaan, amijaaan...amijaaan"
Hamida sedang bersama Salima.
Ibu : "Ada apa Jalal? Kau bahagia sekali..."
Ja : "Amijaan, Jodha Begum, putrimu akan kembali. Saat ini dia sudah di tengah perjalanan dari Amer menuju Agra."
Ibu : "Apa aku bermimpi?? Ya Allah, terimakasih sudah membawa Jodha kembali..."
Ja : "Amijaan aku ingin mengadakan penyambutan yang sangat meriah."
Ibu : "Tentu, tentu Jalal. Kita tak boleh kalah dengan Anang-Ashanti. Akan diadakan pesta kembang 7rupa 7hari 7malam. Dan disiarkan live di semua setasiun kereta api"
Ja : "Ibu jangan lebay deh... itu pesta penyambutan ato pasar malem... oya Ratu Salima, bisakah aku minta tolong padamu untuk merapikan dan menghias kamar Ratu Jodha?"
Sa : "Oh ya, dengan senang hati Yang Mulia."

Lalu Jalal meninggalkan ibunya dan Salima, melanjutkan memberitahukan kabar ini pada semua orang. Ia menemui Atgah, Todarmal, Maansingh. Ada Maham disitu, tapi Jalal bahkan melihatnya pun tidak. Hihi rasain!!
Jalal menyuruh Atgah Shah mempersiapkan acara penyambutan yang meriah.
Ja : "Atgah Shah, aku ingin penyambutan yang sangat meriah. Pastikan semua artis ibukota datang"
At : "Tentu Yang Mulia. Tapi setau saya artis ibukota stok kosong Yang Mulia. Kemarin saya lihat mereka ikut rombongan piknik walisongo"
Ja : "Siapa yang tersisa Atgah?"
At : "Kayaknya tinggal Budi Anduk sama Soimah Yang Mulia"
Ja : "Kyu?? Tinggal itu? Tak usahlah Atgah, aku sedang tak punya tetes mata dan kuping. Tak usah pake artis ibukota nanti kalian saja jadi paduan suara. Biar Maham Anga jadi dirigen nya."
At : "whatever you said Syahensyah, saya manut...kalo harus jadi badut pun saya siaapp"
Ja : "Kamu harus mendapat award 'the most loyal botak man' Atgah".
Ja : "Maan Singh, kau jemput bibimu. Harusnya rombongan dari Amer sudah sampai di Brebes sekarang. Mereka pasti lelah menempuh perjalanan panjang. Buatkan tenda yang nyaman untuk bibimu dan rombongan bermalam."
Maan : "Ji Syahensyah" ((emang agra sebelah mananya brebes??))
Ja : "Todar, aku ingin kau mengatur ritual2 acara seperti ini berdasarkan adat Hindu karena aku tidak terlalu mengerti. Kurasa kita perlu juga melakukan upacara peletakan Patung Kahna di mandir di dalam kamar Ratu Jodha. Tolong pastikan semua terpenuhi ya"
To : "Ji Syahensyah"

Tiba-tiba seisi istana hiruk pikuk mempersiapkan pesta penyambutan Ratu Jodha. Jalal mondar-mandir kesana kemari memastikan segala sesuatunya. Semua orang terheran-heran melihat Jalal. Apa gerangan yang membuatnya bersikap seperti itu. Semenjak kepergian Ratu Jodha mereka tak pernah lagi melihat air muka yang cerah di wajah rajanya. Kini Sang Kaisar bagaikan hidup kembali. Dia berbicara dengan penuh semangat dan selalu berseri-seri. Aiiihhh senangnyaaa si akaaang...ketularan hepi guwe jadinya deh ah.
~
~
~
Eps. 237

Mau nulisnya udah ngekek dulu aja liat kelakuan Jalal. Mondar mandir sambil senyam senyum dewe kayak ayam mo bertelor. Wkwkwk.

Kata Jalal, "Ratu Jodha aku tak bisa melakukan hal lain selain menunggumu tiba disini. Satu2nya yang kuinginkan adalah bertemu denganmu. Tanpamu semenit terasa setahun" (haiiyyahh kalo aku sih, baru ketemu kemaren kok udah harus ketemu lagi kapan sih kita ga ketemu lagi *ngomong sama struk angsuran)
Seorang prajurit menemui Jalal. Melaporkan bahwa semalam Ratu Jodha sudah sampai Depok. Lagi istirahat di Parung Bingung. Jalal senang sekali mendengarnya. Dilepasnya 1 kalungnya diberikan pada prajurit yg membawa kabar. ((Kasih aja semua biar ga kayak dukun gitu))

Ruq melihat Jalal senyam-senyum sambil mondar mandir tiada henti. Sedih dia. Katanya "Dia yang pergi meninggalkanmu kau tunggu2 seperti itu, aku yang selalu disisimu sejak kita kecil kau acuhkan..., malah mbok kon dolanan kapal2an ki pie karepmu..." ((eleeuuhh 😑😑))
Ruq mendekati Jalal.
Ruq : "Apa yang kau lakukan disini Jalal?"
Ja : (tanpa melihat Ruq) "Aku sedang menunggu Ratu Jodha"
Ruq : (sedih, jengkel, ya iyalah suami segitu cintanya ama istri mudanya, menurut loohh) "Aku tau kau bahagia sekali Ratu Jodha akan kembali, aku juga begitu ((awas kalo boong udelmu bodong lo mbak)). Tapi apa dengan kau bersikap seperti ini Ratu Jodha akan tiba lebih cepat?"
Ja : (benar2 tak peduli) "Kau benar. Tapi aku benar2 tak bisa mengendalikan perasaanku. Aku hanya ingin segera bertemu dengannya. Aku benar2 tak ingin melakukan apapun selain itu, bahkan aku tak ingin tidur"
((dan tak adakah yang bilang padamu sudah 3hari kamu nggak ganti baju?? Gak mandi juga ya bang?? Kesian pula Ruq itu...puk puk, udah sono mbak main kapal2an lagi aja))

Seorang prajurit datang lagi, menginformasikan Ratu Jodha sudah tiba di Purwokerto. Sudah semakin dekat. Yoohoo Jalal girang beneerr, langsung dilepas cincinnya dikasiin ke prajurit yg membawa kabar. ((Ini sebenernya Jodha mau kemana sih?? *bingung dewe))
Ruq : (pasrah melihat suaminya sudah setengah gila) "Baiklah, aku akan bergabung dengan yang lain mempersiapkan segala sesuatunya."
Ja : "syukriyya Ruqaiya kau mau melakukan itu"
Ruq : "Aku bahagia kalau kau bahagia Jalal", lalu pamit meninggalkan Jalal.
((*sodorin penggaris, buat ngukur panjang udel))

Dalam hati Ruq berkata 'aku sebenernya ngga sudi melakukan ini semua, tapi kmrn kau sudah lempar aku sampe nabrak timbangan, aku agak ngeri kau apakan lagi aku kalo aku menunjukkan ketidaksukaanku pada Ratu Jodha lagi. ((tumbenan pinter))
Ruq menemui para pelayan. Wah tiba2 aja dia ikut2an sibuk mengatur ini itu. Maham datang dengan terheran heran melihat tingkah Ruq.
Ma : "Nampaknya kau sudah jadi sakit jiwa ya? Karena Jalal memperlakukan Jodha dengan semua ini sepertinya kau jadi lupa ingatan sekarang"
Ruq : "Mungkin musuh2ku yang sakit jiwa"
Ma : "Kau sudah gila, buat apa kau lakukan ini semua untuk orang yang akan memisahkanmu dari Jalal?"
Ruq : "Aku sudah bilang padamu, tak ada yang bisa memisahkan aku dari Jalal. Tapi aku juga tak bisa memusuhi Ratu Jodha. Jadi sekarang aku akan menjadi temannya. Supaya aku tetap bisa dekat dengan Jalal sambil mencari cara memisahkan mereka"
Ma : "Haa, nampaknya kau mulai ketakutan Ruqaiya..."
Ruq : (senyum sinis) "Aku tidak takut. Ini yang namanya cerdas!! Orang harus bergerak searah angin, bukan menentang angin, karena bisa hancur, sepertimu"
((Tsaaaahhhh, berdasarkan trek rekord, ente yang pabrik dodol garut mbak, bukan maham, kuuemakine puooll!!! Dasar kodok.))

Rombongan Jodha tiba di tenda yang sudah disiapkan Maan Singh. Jodha terkejut disambut keponakannya disitu.
Jo : "Maan, apa yang kau lakukan disini? Mengapa kita harus menginap disini? Bukankah kita sudah dekat?" ((Eleeeuuhh ga sabar ni yeee))
Maan : "Iya tante Yang Mulia menyuruhku menyambutmu disini. Dia memintamu beristirahat dulu disini malam ini supaya tidak terlalu lelah. Karena besok ada pesta besar untuk menyambutmu. Aku akan mengawal bibi dan paman2 semua sampai ke Agra."
Jo : "Bagaimana keadaan Yang Mulia?"
Maan : "Selama bibi tak ada di Agra Yang Mulia selalu murung. Dia selalu pasang muka sedih. Bikin semua istrinya mau meluk gitu bi. Tapi Yang Mulia gak mau tuh dipeluk siapapun. Mungkin cuma mau nunggu dipeluk bibi..."
((Eeeaaaa ini keponakan kok ganteng bener, pinter lagi bikin bibinya berbunga bunga *uwel2 Maan singh))
Jo : (blushing) "Apa Yang Mulia tak mengirim pesan apapun untukku?"
Maan : "Tak ada. Tampaknya terlalu banyak yang ingin dikatakan Yang Mulia pada bibi, sehingga Yang Mulia ingin mengatakannya sendiri besok."
Jo : "Masih berapa lama lagi kita bisa sampai Agra, Maan?"
Maan : ((bilang sebulan lagi gitu biar bertunas dia wkwk)) "Besok siang kita pasti sudah tiba di Agra"
Jo : "Maan Singh aku ingin segera tiba di istana. Aku sudah bersalah pada banyak orang karena pergi tanpa pamit. Aku ingin segera bertemu Rahim, Ratu Salima, Ibu,..."
((Ya ampuun ni oraaang masiiiihh aja gengsiii iiihhhh))

Shehnaz yang ikut Jodha ke Agra nimbrung bicara.
She : (ketawa ketiwi ngledek) "Yang bener cuma itu, tak ingin ketemu Yang Mulia??"
Jodha tersipu2 malu. ((Dasar jodha gaya))
Di kamarnya Maham Anga sedang melamun. Resham menghampirinya sambil ngedumel.
Re : "Semua dekorasi di istana ini udah kayak Anang-Ashanti mau kawin aja. Pusing kepalaku kesana kemari kesrimpet pita"
Ma : (melotot menyuruhnya diam)
Adham Khan mendatangi mereka. Tak kalah gondok dengan ibunya.
Ad : "Jalal menyambut kedatangan Jodha dengan besar-besaran. Dia bahkan menyuruh kita jadi paduan suara dan ibu jadi dirigen nya. Ibu sudah berusaha melakukan berbagai cara untuk memisahkan mereka. Tapi tiapkali ibu gagal mereka semakin dekat. Sekarang kita kalah dan harus tunduk padanya."
Ma : "Ora sudi aku dadi dirigen, aku maunya jadi penari latar!!! Ini bukan kekalahan kita Adham, tapi kekalahan Kesultanan Mughal. Kemarin-kemarin kita membuat orang-orang Rajvanshi tunduk pada kita. Tapi sekarang justru terbalik. Dan semua ini gara2 satu biji wanita Rajvanshi sialan itu. Lihat saja, pertama Bharmal, lalu Maan Singh, lalu Shivani dimaafkan, lalu Todarmal diangkat jadi menteri dan kita tak bisa berbuat apa2. Kalau kita mau mengubah keadaan, kita harus menghancurkan orang2 yang loyal pada Jalal. Atgah, Maan Singh, Todarmal, Jodha, dan yang pertamakali harus kita atasi adalah si botak dari goa hantu, Atgah Shah itu."

Sementara itu, Jalal masih saja berada dalam euforia kebahagiaan menunggu kepulangan Jodha. Seorang prajurit melapor lagi bahwa rombongan Ratu Jodha sudah tiba di tenda yang disiapkan Maan Singh. Besok siang mereka akan sudah tiba disini. Jalal terus tertawa bahagia. Semua pemberi kabar memperoleh hadiah. Ada yang payung, panci, sampe kerajinan khas agra, kemoceng kumis jalal. Jadi tiap abis dicukur tu dikumpulin klo udah cukup banyak buat bikin kemoceng. *dibahaaaas....
Ratu Salima menghampirinya.
Sa : "Yang Mulia, kukira begitu tau Ratu Jodha akan kembali, kau akan memperoleh kedamaian kembali. Tapi nampaknya kau malah jadi ketotoran kayak ayam mau bertelor gini."
Ja : "Itu benar Ratu Salima. Ini betul2 malam terpanjang dalam hidupku. Entah kapan Ratu Jodha akan tiba disini."
Sa : "Tinggal malam ini saja Yang Mulia. Besok sinar wajahnya sudah akan menyinari seluruh Agra lagi" ((siih, ini jodha apa lampu pilip jane))
Ja : "Ratu Salima aku mau tanya kau sebagai seorang wanita. Menurutmu, besok aku harus ngomong apa sama Ratu Jodha, aku musti gimana?"
Sa : "Aneh sekali kau ini Yang Mulia, seorang raja dan ksatria hebat sepertimu, yang semua musuh takut kepadamu, tapi kau begitu takut menghadapi istrimu.."
Ja : "Ya Ratu Salima. Buat aku perang terbesar dalam hidupku adalah memenangkan hati Ratu Jodha. ((kyaaaaaaaaaaaa lumeerrrrrrrrr)) Dalam hal cinta aku ini bodoh sekali Ratu Salima. Jadi apa yang harus kukatakan besok?"
Sa : "Tanya saja apa 1 purnama di amer tidak sama dengan 1 purnama di agra?"
Ja : "Yah Ratu Salima itu sih terlalu mainstream..."
Sa : "Kalau begitu tak usah bilang apa2 Yang Mulia. Tenang saja, cinta punya bahasanya sendiri. Ketika kau bertemu dengan cintamu, tanpa perlu berkata apa2, kau sudah mendengar dan berbicara dengannya. Begitu juga Ratu Jodha akan merasakan hal yang sama"
((Jangan percaya!! Itu sungguh nasehat yang absurd!! Cinta ato tidak kau harus saling berbicara dengan mulut. Kalau diam saja berarti lagi ngempet kebelet ke wc.))

Sementara itu, baik Jodha maupun Jalal sama2 tak dapat memejamkan mata barang sebentar. Angin malam dan sinar rembulan dengan senang hati menggantikan peran provider untuk menyampaikan whatsapp. Gratis dan bebas pulsa.
Kata hati jodha : "Kapan malam ini berakhir, kapan aku sampai di Agra. Kau mengirim Maan untuk menyambutku. Aku tau pasti kau tak akan bisa tidur sebelum aku tiba di Agra" ((centang 2 biru *senyum))
Kata hati Jalal : "Aku tak akan bisa tidur sebelum melihatmu. Kapan kau tiba disini..." ((centang 2 hitam *cemberut))
Kata hati Jodha : "Kau sudah berkali-kali minta maaf tapi aku tetap keras kepala. Aku bahkan tak mau bicara denganmu. Tapi kini semua akan baik2 saja. Aku akan kembali disisimu". ((Centang 1 *ngedumel omelin provider))
Kata hati Jalal : "Aku baru akan merasa tenang setelah kau ada disampingku" ((jam pasir *banting hape))

Tiba saat pagi datang. Pagi yang ditunggu-tunggu Jalal setelah malam-malam panjangnya. Kerinduan pada istri tercinta yang menyiksanya akan segera terobati. Semua orang kini menyadari betapa pentingnya sosok Ratu Hindu itu bagi Sang Kaisar. Para selir merasa kagum sekaligus iri pada Jodha. Musuh-musuh dalam selimut mulai memperhitungkan Jodha sebagai target penting untuk disingkirkan. Apa yang dilakukan Jalal untuk Jodha adalah pertamakalinya sepanjang sejarah seorang Kaisar Mughal.

Seisi istana bahkan rakyat jelata berkumpul di pintu gerbang. Semua dekorasi dalam style rajvanshi menyemarakkan istana Agra. Semua menunggu kedatangan Jodha. Lama sekali yang ditunggu tak datang-datang. Harapan mereka hanya satu. Satu gelas es teh dan satu piring mendoan anget.
Yaakkk, akhirnya, tandu yang membawa Ratu Jodha memasuki gerbang istana bersama seluruh pengawalnya. Begitu keluar dari tandu, Jodha terkejut dan terpana dengan segala prosesi penyambutan ini. Tak terbayangkan sama sekali olehnya Jalal akan melakukan semua ini untuknya.
Ratu Hamida, Ratu Salima, Shivani menyambutnya di barisan terdepan. Rahim kecil berlari menyongsongnya. "Choti Amijaan...", Jodha memeluknya. Ratu Salima melakukan semua ritual Hindu untuk Jodha. Sampai detik itu, Jodha masih bertanya-tanya dimanakah Jalal. Kenapa tak terlihat seujung kumis pun padahal dia sudah tak sabar pengen menarik2nya. ((Hasyaahh...))

Setelah semua ritual dilaksanakan, Ratu Salima, Ibu, Shivani, dan orang-orang di barisan terdepan, menepi. Tree reeeettttt....lalu nampaklah sesosok ganteng lengkap dengan bulu kemoceng di bawah hidungnya menatapnya dengan sejuta cinta dan senyum. Eeeaaaa....((lama kaliiiiii pandang-pandangannyaaaa...panaaasss panaaasss, ini pagar betis udah dari pagii tauukk, cepetan dikit napa))
Jalal berjalan mendekati Jodha. Mengulurkan tangannya pada Jodha. Jodha menyambutnya. Jalal menggandengnya masuk ke istana. Ada beberapa pasang mata yang eneg sampe pengen muntah melihat semua pemandangan itu. Termasuk sepasang mata indah milik Ruqaiya yang begitu terluka, dan sakit hati melihat semua adegan itu. ((*sodorin panci. Buat bikin mi rebus? Bukan, buat tutupin muka)) Lalu dia pun memilih melipir pergi daripada lama2 gumoh disitu.
Comments
2 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

2 komentar: